Syukur

“Tiada yang sempurna di dunia ini” sering kali kita mendengar kalimat itu. Tapi mungkin saja kalimat tersebut hanya sebagai pemanas telinga saja tanpa meresapi maknanya. Sebenarnya, kalau kita kaji lebih dalam, terdapat makna yang mendalam.

Coba kita lihat di sekitar kita, berjalannya sistem kehidupan yang harmonis antara manusia yang satu dengan yang lainnya, antara manusia dengan kebutuhan hidupnya dan hubungan antara makhluk hidup yang satu dengan makhluk hidup yang lainnya. Semua bekerja sama dengan serasi dan seimbang. “Saling membutuhkan” sebuah istilah yang tak kan terlepas dari keserasian perjalanan kehidupan tersebut. Jika satu saja sistem keseimbangan itu pincang maka akan berpengaruh pada sistem yang lainnya. Setiap sesuatu pasti mempunyai kekurangan dan kelebihan, sehingga untuk menutupi kebutuhannya itu mereka membutuhkan makhluk yang lain. Kesempurnaan akan nampak jika keseimbangan dapat terjaga.

Dalam kehidupan manusia, terdapat istilah makhluk sosial yang dapat dimaknai bahwa setiap manusia membutuhkan manusia yang lainnya. Tidak ada manusia yang dapat hidup sendiri tanpa ada manusia lain. Seorang Pejabat tidak akan disebut pejabat jika tidak ada rakyat, pabrik selep tidak akan berjalan berjalan tanpa petani menanam padi, penjual soto ayam tidak akan bisa berjalan tanpa ada kerelaan seekor ayam untuk disembelih. Semua berjalan dengan keseimbangan, tergantung dari pilihan setiap individu untuk menentukan mana yang dia butuhkan.

Manusia oleh Allah diberikan pikiran yang dapat menjalankan segala bentuk perbuatan dan hati sebagai pusat inspirasi dan pengendali sistem yang ada dalam jiwa manusia. Hati lah yang menentukan kemana manusia akan melangkah dan membawa jasadnya yang tuduk dengan perintahnya. Jika hati terkena dengan virus nafsu yang jelek maka jasadnya pun akan tunduk untuk melakukan hal yang buruk, sebaliknya jika hati dapat menjalankan sistem dengan baik maka jasad pun akan mengikutinya. Begitulah bentuk sistem kerjasama yang terjadi di dalam diri manusia.

Kadangkala kesombongan dalam diri manusia menutupi mata untuk melihat seberapa jauh dia membutuhkan makhluk lainnya. Seplah-olah dia dapat berjalan sendiri dengan beberapa tumpuk kekusaan atau kekayaan yang dimiliki. Padahal semua yang dimilikinya itu adalah bagian dari makhluk lain, tentunya asal dari segala sesuatu adalah dari satu sumber yakni Allah SWT.

Manusia yang mempunyai jiwa pesimis dan peminder yang tidak percaya diri dengan dirinya sendiri akan berfikir kalau dia adalah manusia yang paling hina dan paling sial. Semua yang ada dalam dirinya seolah-olah tiada artinya. Banyak yang menganggap bahwa orang yang kaya, orang yang punya jabatan tinggi adalah orang yang sempurna. Orang yang demikian perlu diluruskan, karena setiap manusia diberi kelebihan dan kekurangan. Semua akan saling melengkapi. Besar hati dan rasa syukur terhadap apa yang dimiliki adalah sebuah cara untuk menunjukkan bahwa kita adalah manusia yang sangat beruntung.

By. Qosim_Sbw

Tinggalkan Balasan