“DO’A YANG DIPERKENANKAN TUHAN”
“Dalam al-Qur’an terdapat perintah untuk melakukan shalat atau do’a disertai dengan ketabahan sebagai sarana untuk meraih suatu kebutuhan (Q.S 2: 45). Dari sisni dapat dipahami bahwa do;a saja, tanpa ketabahan dala usaha, belum menjadi jaminan terpenuhinya harapan. Ada juga janji Allah yangmenyatakan: Aku perkenankan do’a yang bermohon apabila ia bermohon kepada – Ku. (Q.S. 186).
“Apabila ia bermohon” merupakan syarat sekaligus isyarat bahwa ada saja yang mengangkat tangan dan menengadah ke langit, tetapi ia tidak berdo’a memohon kepada-Nya. Do’a yang tulus pasti diperkenankan oleh Tuhan. Jangankan yang dating dari seorang mukmin, seorang kafir – bahkan Iblis sekalipun – do’anya juga diperkenankan oleh Tuhan lihat (Q.S 15 :37).
Manfaat do’a tidak dapat diragukan lagi. Alexia Carrel, seorang ahli bedah Prancis yang pernah meraih hadiah nobel, menegaskan bahwa kegunaan do’a dapat dibuktikan secara ilmiah sama kuatnya dengan pembuktian di bidang fisika. Oliver Lodge secara halus menyindir mereka yang tidak melihat manfaat do’a: “Kekeliruan mereka, karena menduga bahwa do’a berada di luar fenomena alam. Do’a harus diperhitungkan sebagaimana memperhitungkan secab-sebab lain yang dapat melahirkan suatu peristiwa.”
Di Negara kita, upacara-upacara resmi sebagaiman halnya acara-acara keagamaan seringkali diakhiri dengan do’a. hanya saja sebagian dari permohonan kita itu mungkin tidak memenuhi syarat do’a karena jarang terasa bahwa permohonan yang kita panjatkan bagaikan laporan kepada Tuhan yang disampaikan dengan bangga dan pajang lebar. Kita bagaikan berpidato di hadapan-Nya, padahal kita diperintahkan agar “bermohon dengan rasa rendah diri dan dengan suara yang lembut”. (Q.S. 7:55).
Pada acara keagamaan, kita mempunyai kecenderungan menghimpun semua do’a yang diketahui dan yang pernah dipanjatkan oleh makhluk Tuhan dalam berbagai situasi dan kondisi, sehingga do’a terasa membosankan dan amin diucapkan sebgai isyarat kepada si pendo’a agar menyudahi do’anya. Dalam khutbah-khutbah Jum’at masih terdengar di sana-sini do’a yang pernah di[anjatkan pada masa silam ketika umat islam sedang berperang: “Ya Allah binasakanlah orang-orang kafir dan musyrik.”
Sepanjang pengetahuan saya yang dangkal, Nabi SAW tidak pernah memohon kebinasaan bagi suatu kaum kecuali terhadap merekan yang memerangi umat islam secara fisik. Salah satu do’a beliau yang popular adalah :”wahai Tuhan, berikanlah petunjuk kepada kaumku karena mereka tidak mengetahui.”
Sering timbul pertanyaan dalam benak saya: Apakah kenyataan di atas menunjukkan bahwa kita masih perlu belajar berdo’a dimulai dari keharusan membarengi do’a dengan ketabahan berusaha, sampai pada etika berdo’a dan materi harapan yan dipanjatkan? Apakah kenyataan di atas merupakan rahasia mengapa, misalnya, do’a kita agar “Allah memuliakan Islam dan umat islam serta memenangkannya di seluruh penjuru dunia” belum juga terkabulkan hingga kini?
Kalau berdo’a dan caranya pun masih perlu kita pelajari. Maka sungguh parah penyakit kita; berdo’apun kita belum pandai. (sumber : Lentera Hati. M. Quraish Shihab 149-151)”
Tulisan M. Quraish Shihab di atas patut kita renungkan bahwasanya masih banyak dari kita yang belum mengerti bagaimana seharusnya kita berdo’a. apakah hanya dengan menengadahkan tangan dan mengucapkan kalimat-kalimat do’a semata tanpa dibarengi dengan kesungguhan atau hanya sebagai syarat pelengkap susunan acara saja ketika kita berkumpul dalam suatu majelis tertentu atau hanya pada saat kita dalam kesusahan kemudian lupa dengan kalimat do’a yang pernah diucapkan ketika dalam kesenangan? lalu bagaimana dengan do’a yang dirasa belum dikabulkan, apakah kita harus berputus asa lalu berhenti berdo’a? Mungkin saja Allah masih menunda atau adab berdo’a kita yang masih belum memenuhi syarat atau bisa saja do’a kita sebagai penebus dari dosa-dosa yang pernah kita lakukan.